Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muaro Jambi, yang membentang di sepanjang tepian Sungai Batanghari, bukan sekadar gugusan bata merah peninggalan masa lalu. Sebagai salah satu situs arkeologi terluas di Asia Tenggara, kawasan ini membawa jejak kecerdasan spiritual dan intelektual dari abad ke-7 hingga ke-12 Masehi. Di era kontemporer, situs ini menghadapi gelombang modernisasi yang menuntutnya untuk bertransformasi. Bab buku ini hadir untuk membedah bagaimana kompleksitas transformasi pariwisata di Candi Muaro Jambi dikelola secara harmonis melalui tiga pilar utama: pendidikan, kewirausahaan, dan pelestarian budaya.
Pada bagian awal, bab ini menilik kembali kejayaan masa lalu Muaro Jambi yang pernah berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama Buddha dan sains terkemuka di Asia, tempat para sarjana internasional seperti I-Tsing menimba ilmu. Dalam konteks pariwisata modern, nilai historis ini dihidupkan kembali melalui konsep edutourism (wisata edukasi). Penulis menjelaskan bagaimana situs ini ditransformasikan menjadi laboratorium alam dan ruang kelas terbuka. Pariwisata tidak lagi hanya tentang berswafoto, melainkan sebuah proses internalisasi nilai-nilai sejarah, penguatan karakter berbasis kearifan lokal, serta implementasi kurikulum merdeka bagi generasi muda.
Selanjutnya, bab ini menyoroti pergeseran paradigma ekonomi di sekitar kawasan candi melalui lensa kewirausahaan berbasis komunitas (community-based tourism). Transformasi pariwisata terbukti mampu memicu denyut nadi ekonomi kreatif masyarakat lokal yang sebelumnya bergantung pada sektor agraria atau perkebunan. Penulis menganalisis secara tajam bagaimana pemuda dan warga lokal bertransformasi menjadi pelopor UMKM, penyedia jasa akomodasi homestay yang autentik, pemandu wisata tersertifikasi, hingga pengelola transportasi ramah lingkungan seperti penyewaan sepeda. Kewirausahaan di sini tidak dinilai dari aspek profit semata, melainkan dari sejauh mana masyarakat lokal memegang kendali atas kesejahteraan mereka sendiri.
Namun, potensi ekonomi yang masif kerap kali berbenturan dengan isu kerentanan situs purbakala. Oleh karena itu, bagian berikutnya dari bab ini mendiskusikan tantangan dan strategi pelestarian budaya secara holistik. Penulis menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara komersialisasi pariwisata dan keaslian (authenticity) situs. Pembahasan mencakup manajemen zonasi kunjungan, konservasi fisik struktur bata candi dari ancaman kerusakan lingkungan, hingga revitalisasi warisan budaya takbenda (intangible heritage) seperti tradisi lisan, seni pertunjukan, dan kuliner tradisional yang hidup di sekitar pemukiman warga.
Sebagai penutup, bab buku ini menawarkan sebuah sintesis atau model integratif yang saling mengunci satu sama lain. Pendidikan bertindak sebagai fondasi untuk membangun kesadaran sejarah; kewirausahaan menjadi mesin penggerak yang memberikan insentif ekonomi bagi warga; dan pelestarian budaya menjadi benteng pertahanan agar pariwisata tidak merusak akar identitas lokal. Melalui rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi pemangku kepentingan (pemerintah, akademisi, dan masyarakat), bab ini menegaskan bahwa masa depan pariwisata Candi Muaro Jambi terletak pada kemampuannya untuk tetap lestari di masa depan tanpa kehilangan jiwa dari masa lalunya.
Wira Solina
Penulis Utama
Yasrial Chandra
Penulis Utama
Dodi Widia Nanda
Penulis Utama
Muhamad Aman
Penulis Utama
Sri Murniati
Penulis Utama
Ratih Utami Ramadhaniati
Penulis Utama
Tri Saswandi
Penulis Utama